Kerusakan infrastruktur serta timbulnya ratusan korban jiwa di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menjadi salah satu bukti betapa gempa yang bersumber dari dasar laut memiliki kekuatan yang begitu dahsyat. Gempa tersebut mampu menyebabkan timbulnya gelombang tinggi yang kerap di sebut dengan tsunami. Untuk mengantisipasi kerugian materi dan jiwa akibat sapuan tsunami tersebut, diperlukan sistem peringatan dini yang bisa mendeteksi kedatangannya.

Sistem yang dikenal dengan tsunami early warning system itu diaplikasikan untuk mengetahui secara dini datangnya gelombang laut sebelum mencapai pantai. Pada dasarnya, sistem itu merupakan suatu alat atau mekanisme yang memberikan informasi awal kepada masyarakat yang utamanya tinggal di sekitar pantai. Sistem peringatan dini tsunami yang kini diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia berupa buoy atau pelampung tsunami.

 

 

Perangkat itu dilengkapi sensor getaran atau accelometer, sensor posisi (global positioning system/GPS), dan sensor tinggi muka air laut (bottom pressure). Peletakan alat umumnya di wilayah tektonik yang selama ini diperkirakan sebagai lokasi rawan gempa. Sistem peringatan dini tsunami bekerja dengan memanfaatkan sensor gelombang laut. Prosesnya, sensor gelombang laut pada buoy akan mendeteksi adanya perubahan tinggi muka air laut yang diketahui melalui adanya perbedaan tekanan.

Bahkan anomali air setinggi satu sentimeter saja dapat dideteksi dengan baik oleh alat tersebut. Ketika gelombang naik, tekanan yang menimpa sensor menjadi berat. Informasi itu kemudian dikirim oleh transmitter yang terpasang langsung ke satelit. Satelit selanjutnya akan mengirimkan data pada Badan Metereologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Lembaga itu kemudian memberikan peringatan adanya bahaya tsunami kepada masyarakat melalui pesan singkat atau short message service (SMS), telepon, dan faksimile. Dalam informasi tersebut, pihak BMKG biasanya juga menyertakan keterangan apakah gempa berpotensi tsunami atau tidak. Menilik kasus di Mentawai yang terjadi baru-baru ini, peringat an terjadinya tsunami tidak berjalan optimal. Pasalnya, alat buoy yang biasanya terpasang di perairan Mentawai sedang mengalami kerusakan.

Menurut Ridwan Djamalu din, Deputi Kepala Bidang Teknologi Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sistem transmitter data dan antena yang ada pada buoy rusak dan ditarik untuk diperbaiki pada September 2010. Rencananya, setelah diperbaiki, alat itu dipasang kembali pada November 2010.

Lebih lanjut, Ridwan menjelaskan kerusakan alat pendeteksi dini tsunami itu merupakan akibat dari tindakan vandalisme dan hilang dicuri. “Banyak masyarakat yang belum mengerti fungsi buoy sehingga mereka sering menggunakannya untuk menambatkan perahu, mencuri beberapa sensor, antena, dan kerusakan-kerusakan lainnya,” ujar Ridwan. Apa yang diterangkan Ridwan dibenarkan pula oleh Imam Mudita, peneliti dari Balai Teknologi Survei Laut BPPT.

Menurut dia, buoy perlu diperbaiki karena semua komponennya tidak berfungsi akibat dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih lanjut, Imam mengatakan gempa bumi berkekuatan 7,2 skala richter yang meluluhlantakkan Pulau Pagai, Siberut, dan Sipora, di Kepulauan Mentawai sulit diprediksi dengan menggunakan bouy yang dipasang di cincin tektonik yang letaknya di bagian utara Pulau Pagai.

Pasalnya, pusat gempa bumi berada di selatan Pulau Pagai dengan jarak sekitar 50 kilometer dari pantai Pagai. Selain itu, kedatangan tsunami begitu tiba-tiba, hanya berselang 5 sampai 7 menit dari kejadian gempa bumi. “Artinya tsunami baru diketahui buoy setelah menerjang Pulai Pagai,” ujar Imam. Berdasarkan kejadian tersebut, pihak BPPT berencana mengevaluasi keberadaan buoy dan posisi peletakannya.

Pihaknya juga bermaksud membuat sistem deteksi tsunami dengan GPS. Kedua teknologi itu sebenarnya telah dikuasai BPPT, dan apabila proses evaluasi telah selesai, teknologi tersebut bisa segera diaplikasikan. Ridwan mengatakan penerapan teknologi sensor tenggelam dapat menghindarkan perangkat dari upaya-upaya vandalisme dan pencurian. Hal itu dikarenakan alat dipasang di bawah permukaan air sehingga sulit bagi oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang berniat merusak alat itu.

Meski demikian, papar Imam, alat tersebut tetap menggunakan sensor tekanan air yang disebut dengan bottom pressure gauge (BPG). Alat tersebut akan mendeteksi adanya tsunami melalui tekanan air yang dihasilkan. Tekanan air dapat diketahui dengan mendeteksi perubahan muka air laut yang turun secara drastis dan mendadak.

Informasi Lengkap

Karena alat itu berada di bawah permukaan air, pengiriman data ke satelit tidak dapat digunakan dengan transmitter. Pasalnya, proses pengiriman data akan mengalami kendala ketika menembus air. Oleh ka rena itu, pengiriman data harus dilakukan melalui kabel di bawah laut. Dengan cara itu, papar Imam, hilangnya informasi di perjalanan jika dilakukan melalui kabel biasa dapat teratasi.

Pada dasarnya serat optik memantulkan dan membiaskan cahaya yang ada di dalam perairan sehingga tidak menjalar keluar dan hilang, tidak seperti pada kabel biasa. Dengan sumber cahaya dari laser, cahaya yang ada di dalam serat optik tidak hilang di perjalanan. “Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi,” ujar Imam.

Dalam presentasi yang dilakukan di depan Menteri Koordinator Bidang Kejahteraan Rakyat pada 2007, disebutkan sistem serat optik lebih cepat dalam hal akses penyampaian peringatan. Meski demikian, penerapan teknologi tersebut terkendala dari sisi biaya dan pemasangannya. Pasalnya, serat optik mesti ditanam di bawah laut dengan kedalaman hingga ribuan kilometer dan panjang berkilo-kilometer.

Menurut Ridwan, biaya pemasangan teknologi itu lima hingga enam kali lebih mahal dari sistem buoy. Sebagai gambaran, untuk memasang satu unit buoy saja dibutuhkan biaya lima miliar rupiah. Teknologi alternatif lain yang bisa diterapkan ialah sensor GPS. Sensor itu bisa mengetahui tinggi muka air laut. Perangkat tersebut bisa dipasang dengan cara sete ngah mengapung di perairan. Ke tika sensor GPS menerima infor masi adanya perubahan tinggi muka air laut secara mendadak, alat itu akan muncul ke permukaan.

Namun, menurut Imam, alat tersebut juga masih mengandung kelemahan, yakni hanya mampu dipasang dalam jarak 20 kilometer dari pantai. Apabila melebihi jarak tersebut, alat tidak dapat lagi mengirimkan data. Padahal, informasi adanya tsunami ketika gelombang tinggi itu sudah semakin mendekat ke tepi pantai menjadi kurang berguna.

Meski begitu, setidaknya sensor yang dipasang di dekat pantai di pulau-pulau luar dapat membantu memberikan informasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk segera melakukan proses evakuasi dan pengungsian. (koran-jakarta.com/ humasristek)

 

Sumber : www.ristek.go.id


Add comment


Security code
Refresh