Rabu, 24 Agustus 2016, Dalam rangka meningkatkan serta mengembangkan Manajemen Pengelolaan Sampah  Pasar  di Kota magelang, Dinas Pengelolaan Pasar Kota Magelang mengadakan Pelatihan Pengelolaan sampah dengan Judul  ” Teknologi Pengelolaan sampah Organik dengan Biokonversi ” dengan Narasumber Didin Saepudin, S.Pd., MT dari Kantor Penelitian, Pengembangan Kota Magelang  selaku praktisi Pengelolaan sampah Biokonversi.

Bertempat di Aula Dinas Pengelolaan pasar kegiatan diatas  tersebut  dikuti sekitar 70 peserta,  terdiri dari 4 Kepala UPTD Pasar yang ada di Kota magelang beserta  jajarannya, perwakilan dari Kantor Lingkungan Hidup, Masyarakat Perikanan Kota Magelang (MPKM), dari Kantor Litbang dan Statistik serta dari DKPT.

Didin menyampaikan bahwa Teknologi pengolahan sampah dengan media larva  Black soldier (BS) Fly dengan istilah maggot,  mempunyai bayak keuntungan diantaranya : (1) bersifat dewatering (menyerap air), dan berpotensi dalam pengelolaan sampah organik, (2) dapat membuat lubang  untuk aerasi sampah, (3) toleran terhadap pH dan temperatur, (4) melakukan migrasi mendekati fase pupa, (5) higienis, sebagai kontrol lalat rumah, (6) kandungan protein tinggi mencapai 45%. (6) tidak menjadi vektor (perantara) penyakit. Semua karakter tersebut menunjukkan potensi maggot sebagai agen biokonversi dan sumber protein alternatif pakan ikan .

 

Drs. Joko Budiono, MM  selaku Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Magelang menyampaikan bahwa  dalam upaya pemilahan dan pengolahan persampahan kita sangat kurang sekali, selama beberapa periode dari mulai saya menjabat yang namanya pemilahan sampah nilai pemantauan  adipura  tetap saja tidak berubah. Demikian juga dengan pengolahan sampah,  sudah sediakan anggaran yang tidak kecil,   produksi pupuk cair dan komposter cukup banyak namun masih kendala pemasaran belum terpecahkan.

Hal senada disampaikan oleh Kepala bidang kebersihan, ketentraman, ketertibandan Pengembangan Pasar  Sarwo Imam Santoso ST., MT   bahwa dalam pengelolaan persampahan  di  Kota Magelang pada saat ini sudah pada titik menghawatirkan, hal ini karena kita sedang mengalami darurat sampah. Keberadaan Teknologi  persampahan terbaru yang  efektif  baik waktu dan prasarana, serta    mudah dilaksanakan  dimasyarakat, diharapkan dapat berdampak pada memperpanjang usia Tempat pembuangan Akhir.

Pak Ceri selaku wakil dari MPKM mengungkapkan   bahwa teknologi Biokonversi dengan menggunakan lalat BSF sebagai agen perombak  sudah lama saya dengar, dan pengelolaan sampah organik di Industri besar seperti di jambi telah mengunakan teknologi Biokonversi menggunakan Larva black soldier fly (BSF) sebagai alternatif pakan ikan dan unggas. Hal ini karena kandungan protein maggot dapat diatas 30%, bahkan berdasarkan penelitian dari IPB menurut Melta Rini Fahmi dkk  bahwa kandungan proteinnya sampai diatas  44%.  Tujuan kehadiran beliau adalah ingin mewadahi atau menampung hasil pembudidayaan maggot yang nantinya ada di Kota Magelang sebagai bahan konsumsi pakan alternatif seperti maggot pada ikan peliharaannya ataupun bagi komunitasnya.

Berdasarkan perbandingan bahwa harga pakan ikan dengan  kandungan protein diatas 20% - 30% masih impor, tentunya hal ini berdampak kepada  harga ikan di tingkat penjual menjadi tidak murah dan sulit dijangkau.. Di sisi lain bahwa kebutuhan protein orang indonesia relatif rendah di bandingkan konsumsi orang jepang yaitu skitar 500 gr/hari.

Keberadaan pakan alternatif dari sampah organik sangat dinantikan, karena  dilapangan mempunyai setidaknya 2 (dua) keuntungan yang  cukup besar, yaitu pengurangan sampah organik di Kota yang mencapai 70 sampai 80 %, serta penyediaan pakan alternatif bagi pakan sebagai upaya ketahanan pangan di Kota.

Pada sesi Tanya jawab peserta sangat antusias terhadap kegiatan pelatihan yang merupakan ilmu baru dalam upaya pengelolaan sampah. Dan di sesi  terakhir  dengan persetujuan dari Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Magelang  bapak Rokin selaku kepala UPTD Pasar Cacaban menyambut baik dan akan menjadi pilot projek pembudidayaan teknologi Biokonversi menggunakan larva BSF.

Teknologi Biokonversi

Biokonversi didefinisikan sebagai perombakan sampah organik menjadi sumber energi metan melalui proses fermentasi yang melibatkan organisme hidup . Proses ini biasanya dikenal sebagai penguraian secara anaerob . Umumnya organisme yang berperan dalam proses biokonversi ini adalah bakteri, jamur dan larva serangga (family : Chaliforidae, Mucidae, Stratiomydae) .

 

Dalam kehidupan sehari-hari, proses ini sering ditemukan, seperti pada proses pembuatan tempe yangmemanfaatkan jamur (ragi) sebagai organisme perombak, proses pembusukan sampah organik (pembuatan pupuk kompos) yang melibatkan bakteri sebagai organisme perombak . Sedangkan pada limbah hewani agen perombak yang sering di temukan adalah larva serangga Diptera. Larva serangga dari famili : Stratiomydae, Genus: Hermetia, spesies : Hermetia illucens, banyak di temukan pada limbah kelapa sawit . LarvaHermetia illucens atau Black soldier (BS) Fly ini, lebih dikenal dengan istilah maggot .

 

Istilah "maggot" mulai dikenal pada pertengahan tahun 2005, yang diperkenalkan oleh tim Biokonversi IRD-Perancis dan Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot merupakan larva serangga (Diptera : Stratiomydae, Genus Hermetia) yang hidup di bungkil kelapa sawit (Palm kernel meal/PKM).

 

Maggot sebagai pakan ikan memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai pengganti tepung ikan (fishmeal replacement) dan sebagai pakan alternatif. Fungsi maggot ini pada akhirnya akan mempengaruhi bentuk pengolahannya. Sebagai pengganti tepung ikan, maggot diolah dalam bentuk tepung . Tepung maggot ini selanjutnya dimasukkan dalam formulasi pakan sebagai salah satu sumber protein menggantikan tepung ikan . Sebagai pakan alternatif, maggot dapat diberikan dalam bentuk fresh (segar) pada ikan, dapat juga diberikan dalam bentuk pelet . Untuk pengolahan menjadi pelet maggot terlebih dahulu dikeringkan hingga kadar airnya mencapai 25%, setelah itu langsung dimasukkan ke dalam mesin pelet untuk dicetak . Dari penelitian yang dilakukan, ikan-ikan carnivora, seperti ikan Arwana, Betutu, Lele dan  Gabus sangat menyukai maggot fresh sebagai pakannya. Sedangkan ikan-ikan yang berukuran kecil lebih menyukai pelet magot.

 

 

Black soldier ditemukan hampir di seluruh wilayah, namun jumlah terbanyak ditemukan di daerah-daerah yang jumlah penduduknya sedikit . Di wilayah yang berpenduduk padat kehadiran maggot akan berkompetisi dengan lalat rumah (Mucidae) atau lalat hijau (Caliphoridae). Kedua kondisi wilayah ini akhimya mempengaruhi teknik produksi maggot. Untuk wilayah yang berpenduduk padat produksi maggot dilakukan dengan sistem tertutup dengan menggunakan kandang . Sedangkan pada sistem terbuka wadah yang digunakan adalah tong-tong plastik yang di tutup penutup tong diselangi dengan kawat, fiber dan bambu .

Add comment


Security code
Refresh