Oleh : M. Zaenal Arifin [1]

 

Sebuah sejarah yang tak bisa dipugkiri bahwa Kota Magelang adalah Kota berhawa sejuk. Setiap ruas jalan kala itu memiliki pohon yang rindang. Berjalan di sepanjang jalan Gatot Subroto seakan tak pernah lelah, setiap kaki melangkah terantuk biji “sogok telik” yang indah, bagai permata. Terkadang bunga-bunga cemara kering dijumpai di ruas jalan tersebut. Setiap yang pernah melintasi jalanan tersebut selalu rindu dan rindu kembali. Itulah sejarah, yang tentuanya nuansa hijau dapat kita jumpai hampir di semua ruas jalan di Kota Magelang, sebut saja ruas jalan Kapten Supratman, jalan menuju Untidar, sebuah perguruan tinggi swata yang saat ini telah menjadi Negeri.

Seiring berjalannya waktu, usia pohon kian menua, kekuatannya kian turun bahkan menuju rapuh. Pohon-pohon tersayang yang sekian lama kian aus, akan menjelma menjadi pengintai para pengguna jalan, apabila para pengelola pohon tidak cermat dan jeli. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, setiap musim penghujan, kencangnya angin, beberapa ranting pohon patah, bahkan beberapa pohon sangat tua. Mendengar cerita seorang kawan, saat Bpk. Walikota Magelang terpilih pada periode pertama, saat berkeliling bersama SKPD terkait pernah mengatakan sambil menunjuk pohon pelindung sepanjang jalan tersebut, bahwa Saudara-saudara, pohon itu semakin tua, untuk keselamatan jalan seharusnya ranting-ranting tersebut diikat dengan kawat yang memadai ke induknya, sehingga apabila ada yang lapuk dan patah tetap mengkait di pohon, tidak mengganggu keselamatan pengguna jalan.

Arahan itu telah sekian lama, saat ini beberapa pohon telah dikaitkan dengan pohon induknya. Lepas dari itu semua, pohon-pohon pelindung masih banyak yang usianya lebih dari 10 tahun, di spanjang jalan Soekarno Hatta yang terbangun pada 1985 an pun sudah tampak besar. Walau ada pepatah Besar belum tentu rapuh, kecil belum tentu kuat, namun kiranya perlu tindakan-tindakan preventif agar Pohon-pohon tersayang di sepanjang jalan itu tidak menjelma jadi pengintai keselamatan. Banyak cara dan teknologi yang dapat digunakan untuk iru.

Belajar dari Kota Bogor sebuah Kota yang memiliki Pohon-pohon tua dan terkenal dengan Kebun Rayanya, telah melakukan test terhadap pohon-pohon yang ada. Kegiatan tersebut dilakukan dengan bekerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan. Peneliti sekaligus guru besar Entemologi Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dodi Nandika,[2] mengatakan kampusnya memiliki alat untuk mendeteksi kondisi pohon. Alat bernama sonic tomography ini, menurut Dodi, mampu mendeteksi "penyakit" di dalam pohon yang tak kasat mata.
Menurut Dodi, alat ini bisa mendeteksi kesehatan pohon seperti halnya alat rontgen pada manusia. Hasil deteksi sonic tomography, Dodi menjelaskan, berupa pencitraan atau foto. Dengan demikian, bisa diketahui keadaan di dalam batang pohon tanpa merusak pohon tersebut.

Kota Magelang yang dikenal dengan Kota yang memiliki paru-paru hijau dan Kotanya penuh dengan Pepohonan Lindung Jalan, seyogyanya melangkah ke arah sana, apabila tidak memungkinkan menyediakan alat tersebut, perlu di cari terobosan untuk dapat bekerjasama dengan IPB. Dengan adanya citra poho, tindakan preventif akan dapat dilakukan, sehingga resiko bencana pohon tumbang akan di eliminir.

 

 

 



[1] Staf, Kantor Penelitian, Pengembangan dan Statistik, calon peneliti

Add comment


Security code
Refresh