Oleh : M. Zaenal Arifin, ST[1]

 

Biopori pada hakekatnya merupakan lubang-lubang dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Sedangkan Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Dr. Kamir Raziudin Brata.[2]

Di Magelang saat ini telah marak baik di komplek bangunan gedung perkantoran, sekolah maupun tempat-tempat publik telah di bangun lubang-lubang biopori, sebagai salah satu alternatif dalam mengelola air permukaan. Dengan lubang-lubang biopori tersebut diharapkan air yang sedianya akan terlepas bebas akan kembali ke perut bumi, walau dalam dimensi yang relatif kecil pada masing-masing biopori. Namun apabila pembuatan lupang biopori dilakukan secara masif niscaya air yang tertangkap lagi ke perut bumi akan semakin banyak, sehingga kelestarian air kan dapat terjaga.

Di samping penyediaan biopori, penangkapan air tanah bisa dilakukan juga dengan penanaman pohon, namun hal itu akan lebih pasapabila dilakukan di daerah pinggiran perkotaan maupun perdesaan. Di perkotaan dengan keterbatasan lahannya hal tersebut akan sulit dilakukan walaupun penting untuk mendukung ketersediaan oksigen.

Diberbagai kawasan perkotaan yang lain, sebut saja Pemerintah kabupaten Bogor, dalam rangka menyelamatkan bumi, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor tengah berupaya dan fokus menjaga dan melestarikan lingkungan yang salah satunya dengan membuat 5 juta lubang resapan biopori di lapangan Tegar Beriman. [3] “Kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan kita bersama terhadap bumi dan lingkungan kita. Dengan mengusung tema yang dikeluarkan United Nations Environment Programme yakni It’s Our Turn To Lead. Dalam hal ini kiranya kita sama-sama sependapat bahwa tema ini perlu terus menerus disosialisasikan secara intensif untuk mengingatkan kita semua, bahwa sudah saatnya kita menjadi garda terdepan dalam upaya menyelamatkan bumi ini,” tutur ibu Nurhayati ( Bupati Bogor)[4]

Dr. Kamir Raziudin Brata, sebagai penemu, mengawali penelitiannya tentang biopori sejak ia mengikuti perkuliahan S2 bidang studi Soil Physics di University of Western Australia mulai tahun 1992. Semula istilah yang dipakai untuk biopori adalah mulsa vertikal (vertical mulch). Beberapa penelitian yang dilakukannya antara lain :

1)   “Pemanfaatan Sisa Tanaman Sebagai Mulsa Vertikal dalam Usaha Konservasi Tanah dan Air pada Pertanian Lahan Kering di Latosol Darmaga” (1993),

2)   “Efektivitas Mulsa Vertikal dalam Pengendalian Aliran Permukaan, Erosi, dan Kehilangan Unsur Hara Pada Pertanian Lahan Kering di Latosol Darmaga” (1994), dan

3)   “Penggunaan Cacing Tanah Untuk Peningkatan Efektivitas Mulsa Vertikal Sebagai Tindakan Konservasi Tanah dan Air Terpadu pada Pertanian Lahan Kering di Latosol Darmaga” (1995). 

Berdasar temuan penelitian-penelitiannya tersebut, maka mulsa vertikal yang semula digunakan terutama untuk penyehatan pohon dan tumbuhan lain, bertambah manfaatnya juga untuk penyerapan air, kesehatan tanah, dan penanganan limbah organik.

Penelitian-penelitian tersebut mulai dikenal luas ketika terjadi peristiwa banjir di Jakarta pada tahun 2017. Pada saat itu, kalangan media-massa ramai mencari berbagai solusi untuk mengatasi banjir. Sebagian diantaranya datang dan bertanya ke IPB. Ketika Dr. Kamir Raizudin Brata menerangkan teknologi mulsa vertikal hasil penelitiannya, mereka sangat terkesan. Waktu itu, kalangan media mengusulkan agar teknologi mulsa vertikal tersebut diganti namanya menjadi biopori agar lebih mudah diingat dan diucapkan[5]. Hal tersebut disetujui sang Doktor dan hingga saat ini mulsa vertikal dikenal masyarakat luas dengan biopori.

Di Kota Magelang, berdasarkan Daerah Dalam Angka 2016 menyebutkan bahwa jumlah kepala keluarga pada akhir tahun 2015 sebanyak 42.433 KK, apabila diasumsikan dua per tiga KK memiliki rumah sendiri dan masing-masing rumah memiliki 3 lubang resapan biopori, maka di Kota Magelang akan tersedia 84.866 lubang biopori partisipasi warga yang tersebar merata di seluruh permukiman. Apabila hal itu terwujud maka rata-rata per kilometer persegi akan tersedia 4.684 lubang biopori, dan apabila target biopori kota magelang adalah 5.000 lubang per km2 maka partisipasi masyarakat mampu mencapai 94%. Sebuah partisipasi yang luar biasa.

Saya berharap ide ini dapat menjadi pertimbangan bagi pemangku kebijakan, syukur-syukur dapat menyokong dalam penilaian adipura di tahun-tahun mendatang. Kiranya tidaklah sulit, kelompok-kelompok dasa wisma di latih, diberikan stimulan, insyaallah akan bergerak dan berkembang sendiri.

 

 

 



[1] Staf Kantor Penelitian, Pengembangan dan Statistik , Kota Magelang, calon peneliti

[3] http://bpbd.bogorkab.go.id/index.php/post/detail/1322/selamatkan-bumi-pemkab-bogor-buat-5-juta-lubang-biopori#.WDUuO7J97IU

[4] http://bpbd.bogorkab.go.id/index.php/post/detail/1322/selamatkan-bumi-pemkab-bogor-buat-5-juta-lubang-biopori#.WDUuO7J97IU

 

Add comment


Security code
Refresh